Hyouka Volume 5: Perkiraan Jarak Antara Dua Insan; Chapter 2-2


Volume 5 - Perkiraan Jarak Antara Dua Insan – It walks by past
·       Chapter 2:  Teman yang Perlu Dirayakan
2.    Masa Lalu: 27 Hari yang Lalu
               
Kemarin aku terjaga sampai larut malam. Bukan karena aku sedang melakukan suatu perkerjaan tertentu, tetapi karena besoknya libur, jadi tanpa arah aku membaca buku dan menonton TV dalam waktu yang lama.

Aku bangun kesiangan di pagi harinya dan melihat tidak ada orang di ruang tamu. Aku tahu kalau ayahku sudah berangkat bekerja, tetapi aku tidak tahu apa yang sedang kakak perempuanku lakukan. Dia mungkin di suatu tempat di dalam rumah, atau bisa saja dia malah di suatu tempat di luar Jepang. Tanpa malu aku menguap lebar, dan menjatuhkan diriku ke sofa.

Remotnya berada di bawah meja yang ada di depanku. Setidaknya aku ingin menyalakan televisi dan melihat apa yang sedang ditayangkan, akan tetapi aku tidak bisa menemukan acara yang menarik, bahkan setelah mengganti saluran televisi beberapa kali. Aku masih mengantuk sehingga televisinya malah menjadi sedikit mengganggu. Aku telah membawa buku tipis yang tadinya aku baca di kamarku, jadi aku menenggelamkan diriku ke sofa dan membuka halaman buku tersebut.

Sebelum membaca satu kalimat pun, aku melihat cetakannya dan menggerutu kepada diriku sendiri.

“Agak gelap.”


Kordennya tertutup. Biasanya aku lebih suka kordennya dibuka, tetapi karena aku sudah sangat nyaman di sofa, bangun pun terasa sangat merepotkan. Aku meletakkan buku di samping dan menggapai remot sekali lagi. Di atas meja ada sebuah asbak dan sebuah kucing keberuntungan.

Kucing keberuntungan ini merupakan benda kecil yang aneh. Aku tidak tahu kalau pembuatannya buruk atau memang sengaja dibuat seperti ini, tetapi kucingnya nampak seperti sedang tersenyum lebar kepada kita. Membawa sebuah koin besar layaknya kucing keberuntungan yang lain. Meski kalau kucing keberuntungan yang lain biasanya ada bermacam-macam kalimat yang tertulis seperti, “kebahagiaan agung,” “keberuntungan luar biasa,” atau “kesejahteraan berlimah,” kucing keberuntungan ini hanya bertuliskan satu kata, “beruntung.” Tentu saja, satu-satunya orang yang membawa sesuatu seperti ini adalah kakakku, tetapi meskipun begitu, aku penasaran di mana dia membelinya.

Isinya kosong, dan tangannya diberi pegas sehingga bisa digerakkan naik turun. Kakakku merubah beberapa bagiannya untuk menambahkan fitur itu. Dia mencoba membuat supaya bisa menembakkan laser infrared. Meskipun kau tidak bisa langsung melihatnya, dia masih mengaturnya supaya laser tersebut bisa keluar dari mata.

“Jika seekor kucing akan menembakkan laser, maka harus keluar dari mata.”

Ketika dia mengatakan ini, aku tidak bisa bicara apa-apa, meski kalau dipikir-dipikir sebenarnya tidak begitu aneh. Bagaimanapun juga, remot juga menggunakan sinar infrared. Dia pada dasarnya hanya meletakkan remot ke dalam kucing keberuntungan tersebut.

Receivernya dihubungkan ke lampu yang ada di atas. Ketika kita menggerakkan tangannya untuk mengundang nasib baik, sebuah laser infrared akan muncul dari matanya untuk menerangkan atau menggelapkan ruangan. Hasilnya, kau bisa melepas rangkaian lampu langit-langit dan suka akan keadaan sekitar yang menjadi luas. Kecuali sekarang, karena kita harus terus meletakkan kucing keberuntungan itu di sana daripada rangkainnya, yang akan terus mengganggu bagaimanapun juga. Setidaknya berperilakulah yang baik untuk menggunakan kucing yang sebenarnya menarik ini.

Kucing keberuntungan itu ada di sisi ujung meja, jadi aku berusaha menggapainya. Itulah kenapa aku mengambil remotnya terlebih dahulu. Sebagai pengganti tongkat, aku mencoba menggunakan tangan kucing keberuntungan. Sepertinya aku bisa menggapainya, tetapi ternyata aku tidak bisa entah bagamana kumencobanya. Kalau aku mengangkat sedikit badanku mungkin aku akan bisa menggapainya, tetapi itu sama saja dengan berdiri. Ketika aku mencoba menunakan tanganku dengan susah payah sambil menahan menggerakkan anggota badanku yang lain, sebuah suara memanggilku dari belakangku.

“Jadi kau ingin untuk menguasai seni malas-malasan seutuhnya atau apa?”

Jalan untuk menguasai seutuhnya penghematan energi tidak akan pernah berakhir; aku bahkan belum melihat puncak kesempurnaannya. Aku berbalik dan melihat kakakku. Sepertinya dia sehabis mandi sore karena handuk mandinya dengan kencang ia lilitkan di kepalanya. Dia berjalan ke dapur dan menawari, “Mau kopi?”

“Ya.”

“Oke, kalau begitu tuangkan untukku juga saat kau membuatnya.”

Dia tidak akan melakukannya sendiri? Lalu kenapa dia pergi ke dapur?

Karena aku jadi mengingingkan kopi, semua tekad dan usaha yang sebelumnya aku lakukan untuk tidak berdiri langsung sirna. Aku menampar lututku untuk memberi energi yang aku butuhkan untuk berdiri lalu pergi ke dapur dan menghangatkan air. Kakakku membelakangiku ketika dia memandangi kulkas dan akhirnya menemukan sebuah sandwich untuk dimakan. Aku tidak tahu kalau ada sandwich di kulkas. Bertahun-tahun, aku telah melihat seluruh benda yang didinginkan di kulkas itu, dari tsukudani (teknik memasak di mana kita menghangatkan sesuatu di kuah saus kecap untuk diawetkan dan dimakan.) larva tawon sampai burger kanguru. Dibandingkan makanan-makanan tersebut, setidaknya sebuah sandwich tidak begitu jauh dari hal yang sewajarnya.

“Keringkan rambutmu atau makan saja. Jangan lakukan keduanya.”

Aku mengtakannya dengan sinis kepadanya karena dia masih berlilitkan handuk di kepalanya, tetapi dia menghiraukanku. Dia mengambil sebuah telur dan memutarkannya di bak cuci piring seperti gasing. Telurnya langsung kehilangan keseimbangan dan jatuh.

“Oh ayolah, apakah masih mentah?”

Dia  menghembuskan nafas panjang, aku tahu dia pasti salah mengira akan telur mentah sebagai telur yang sudah direbus. Aku memang membuat beberapa telur rebus kemarin malam, tetapi untuk kumakan sendiri malam itu juga. Aku pikir aneh kalau dia mengetahuinya, tetapi siapa tahu. Mungkin dia melihat sisa makanannya atau semacamnya.

Tidak ada lagi di kulkas yang perlu ditunjukkan. Dia menutup pintunya dengan mendorong menggunakan punggung bawahnya lalu bertanya dari belakangku ketika aku sedang menyiapkan kopi.

“Oh ya, demammu sekarang sudah menghilang, ya.”

“Demamku?”

“Bukankah itu lumayan parah?”

Aku berpikir sejenak lalu menjawab.

“Sejak kapan ini?”

Memang benar; aku mengalami demam di bulan ini.

Suatu hari, Chitanda menghubungiku, meminta tolong kepadaku karena festival musim semi kekurangan orang. Banyak hal yang telah terjadi, tetapi singkatnya, aku pergi untuk membantu mereka meski berujung menjadi hari yang agak aneh. Bahkan sulit bagiku untuk mempercayai semua telah terjadi dalam rentang waktu sehari saja. Aku masih bisa dengan jelas mengingat kejadian itu, di segala sisi dikelilingi oleh bunga-bunga dari pohon ceri yang baru mekar.

Benar-benar terasa dingin, apalagi setelah matahari terbenam. Meskipun aku sudah mengatakan kalau aku kedinginan, Chitanda bersikeras mengatakan bahwa hawa dinginnya bukan disebabkan oleh waktu itu yang sudah memasuki musim semi. Aku tidak bilang kalau aku sakit karena itu, tetapi beberapa hari setelahnya, aku terkurung di tempat tidurku. Sampai kakakku kembali pada malam hari, aku sendirian di rumah, sehingga seluruh kedingingan, demam dan kelaparan membuatku terlihat sangat menyedihkan.

Kakakku mungkin sedang membicarakan tentang itu, tetapi itu terjadi saat liburan musim semi. Aku memang mengalami semua itu tetapi segera sembuh sekitar dua hari kemudian, jadi ketika aku berangkat untu upacara pembukaan aku sudah benar-benar baikan.

“Itu sebulan yang lalu.”

“Benarkah? Berarti sudah satu bulan ya. Waktu berlalu sangat cepat.”

Dia berpura-pura tidak peduli, lalu menepuk pelan kepalaku. Dia memainkan rambutku lalu bilang, “Rapikan rambutmu.”

Aku akan melakukannya nanti.

Seseorang dengan sangat ramah membuatkannya kopi namun dia bahkan belum mencicipinya. Dan tiba-tiba dia berkata, “Oh, sudah waktunya,” lalu kembali ke kamarnya. Aku membaca kembali buku yang aku tinggalkan di sofa, namun setelah tiga puluh menit berlalu, dia keluar dari kamarnya lagi.

“Hei, hari ini kau juga tidak keluar, kan?”

Aku memang tidak mempunyai rencana apa pun, tetapi aku tidak begitu senang dengan caranya mengatakan ‘juga’. Aku menjawabnya tanpa memalingkan pandangan dari buku.

“Aku tidak ada niatan mau melakukan sesuatu.”

“Aku penasaran berapa banyak jarak yang telah kau tempuh sepanjang hidupmu.”

“Saudara perlu saling mengimbangi.”

Setelah aku mengatakan ini, dia menjawab dengan nada yang merendah diri.

“Jadi kau mengatakan kalau kau beristirahat untuk diriku. Sungguh baiknya dirimu.”

Aku tidak pergi dari rumah hanya untuk mengimbangi penggunaan kakakku yang berlebihan atas bensin, bahan bakar pesawat, dan biaya perjalanan lainnya. Sebagai seseorang  pendukung penghemat energi, ini merupakan bentuk permintaan maafku kepada peradaban manusia atas perbuatan kakak bodohku ini.

“Anak kecil yang sangat menyedihkan.”

Dia mengatakan sesuatu yang sangat kejam.

“Yah bagaimanapun, teruskan saja untuk tidak melanjutkan apa pun sampai jam 2:30.”

“Kau ingin aku untuk menjaga rumah?”

“Ya. Jika tidak ada yang datang, kau bebas untuk melakukan apa pun.”

Awalnya aku memang tidak mempunyai rencana keluar, tetapi karena perkataan dia ini membuatku sangat tidak nyaman. Aku melanjutkan membaca buku sambil berkata.

“Bawakan aku sesuatu.”

Sepertinya dia sudah mengenakan sepatunya. Suaranya menggema ke seluruh ruangan rumah.

“Aku akan membelikanmu beberapa lilin. Kau menyukainya, kan?”

Sejak kapan?

Bagaimanapun, karena dia menyebutkan lilin, aku tahu dia belum lupa sekarang hari apa. Meskipun sepertinya dia tidak berniat untuk merayakannya…

Tentu saja, ketika aku msih kecil, aku suka meniup lilin yang ada di kue.

Hari ini merupakan hari ulang tahunku.



Apa yang dia maksudkan dengan menyuruhku untuk menjaga rumah sampai jam 2:30? Aku meletakkan bukuku ke sampingku, dan menjatuhkan mukaku ke sofa untuk berpikir. Dia kakakku. Dia mungkin merencanakan sesuatu yang tidak penting. Dia memberi tahuku untuk menunggu karena sesuatu akan datang, tetapi apa itu?

Melakukan perayaan selagi aku di sini akan menjadi perbuatan berbudi yang dilakukan olehnya. Karena itu merupakan perbuatan berbudi untuk dilakukannya, aku merasa kalau itu tidak akan terjadi. Tomoe Oreki bukanlah orang yang melakukan hal-hal semacam itu, dan bahkan jika aku salah pun, mengatur waktunya jam 2:30 di sore hari itu terlalu tanggung.

Dia tadi memberi tahuku, “Jika tidak ada yang datang, kau bebas untuk melakukan apa pun.” Itu berarti mungkin yang datang adalah ‘seseorang’, bukan ‘sesuatu’. Seseorang yang mungkin akan datang di hari ulang tahunku… Sebenarnya, mungkin salah untuk beranggapan hari ulang tahunku merupakan hal di balik ini semua. Bisa saja hanya seseorang seperti rentenir atau distributor informasi lingkungan sekitar yang akan datang. Mungkin salah untuk beranggapan kalau dia mengatur ini semua. Mungkin aku mencurigainya terlalu banyak.

Meskipun aku mengatakan ini ke pada diriku sendiri, aku tidak bisa menyingkirkan pertanda buruk yang bersemayam di kepalaku . Karena aku terlalu memirkan tentang waktunya, wajar saja jika tangan kedua terlihat bergerak sangat pelan.

Aku telah kehilangan nafsu makan, jadi aku putuskan untuk menunggu tanpa menikmati makan siang. Aku akhirnya menyelesaikan buku yang sedari tadi kubaca, tetapi aku tidak punya cukup waktu untuk melanjutkan kelanjutannya. Aku menyalakan televisi dan melihat acara traveling. Beginilah diriku melewati waktu, melihat orang asing menikmati makanan yang terlihat lezat di sebuah restoran mewah.

Dipikir-pikir, bagaimana dia mengatakan secara khusus “jika mereka tidak datang”, berarti belum tentu mereka akan datang tepat jam 2:30. Dia tidak mengindikasikan waktu kedatangan, tetapi lebih ke periode kedatangan. Contohnya, jika aku ingin memberitahu Satoshi menggunakan kalimat persis, “Jika aku tidak datang jam 2:30, lakukan apa pun yang kau mau,” Aku lebih condong mengatakan sesuatu seperti, “Aku harusnya datang lebih awal, tetapi ada kemungkinan kalau aku akan terlambat. Jika aku tidak di sana jam 2:30, anggap saja aku tidak akan datang.”

Itulah kenapa, kalau aku mendengar dering bel jam 2 kurang 5 menit saja, aku anggap kalau itu tidak ada hubungannya dengan tamu yang kakakku suruh tunggu. ‘Aku penasaran mungkinkah itu seorang iblis. Atau mungkin seekor ular.’ (Peribahasa Jepang yang berarti ketakutan akan hal yang tidak kita ketahui.) Entah kenapa, perasaan itu mulai hadir di benakku. Aku mengenakan sepasang sandal dan turun ke pintu masuk, mengintip lewat celah pintu.

Bukan iblis, maupun ular. Bukan pula rentenir maupun distributor informasi lingkungan sekitar.

“Ah, sial. Jadi itu ya.”

Keluar begitu saja dari mulutku sebelum aku menyadarinya.

Empat orang berdiri di luar: Satoshi, Chitanda, Ibara, dan Oohinata.

Seakan-akan menyadari keberadaanku, Satoshi memandang balik tatapanku lewat celah pintu. Dia menunjukan sebuah senyuman memuakkan lalu mengangkat tangannya. Atas semua beragam masalah yang kakakku perbuat padaku, ada satu hal yang membuatku harus berterima kasih padanya.

Dia menyuruhku untuk merapikan tempat tidur.



Tidak bisa terelakkan lagi. Aku tidak bisa mengusir mereka begitu saja.

Bagaimanapun, aku membawa mereka ke ruang tengah dan menyuruh mereka duduk di sekitar meja yang rendah. Chitanda dan Oohinata duduk di sofa sedangkan Satoshi dan Ibara duduk di bantal lantai.

Satoshi memakai baju biru dan celana berkantong. Ibara memakai jaket berwarna abu-abu dan celana pendek. Chitanda memakai kemeja rajutan berwarna buah persik dan rok yang mencapai bawah lututnya. Oohinata memakai kaos dan celana jeans. Memandang setelan pakaian yang tidak biasa di sekitarku ini, aku mengeluh.

“Saudara-saudara, apa yang sebenarnya terjadi di sini ketika tidak ada aku?” (Salah satu bait dalam puisi karya Sakutaro Hagiwara.)

“Apa yang sedang kau bicarakan?”

Meskipun Ibara mengenakan baju yang santun, cara bicaranya tetap saja kasar. Oohinata mengabaikannya dan menjawab, “Oh, Sakutaro,” Satoshi pun tertawa.

“Apa kau mungkin penasaran angin apa yang membawa kami ke sini?”

Aku diam dan mengangguk.

Sudah pasti kalau mereka datang untuk merayakan hari ulang tahunku. Bagaimanapun juga, Oohinata sedari tadi membawa sebuah kotak yang ditali sebuah pita dengan logo sebuah toko roti yang aku tahu di sini, jadi aku tidak bisa tanya kenapa mereka datang begitu saja.

Masalahnya adalah, Satoshi dan aku sudah saling mengenal selama tiga tahun dan tidak sekali pun kami merayakan hari ulang tahun masing-masing. Apabila dia melakukan ini hanya untuk bercanda, tidak mungkin dia harus membawa seluruh anggota Klub Klasik. Hanya saja kami bukanlah kelompok yang seperti itu.

Kami memang pernah berpergian bersama-sama, murni untuk menulis antologi. Tetapi kami tidak sedekat itu hingga datang ke rumah seseorang sekedar untuk menghabiskan waktu. Itulah yang kupikirkan, dan aku yakin yang lain juga berpikiran sama. Seakan-akan untuk menutup jarak tersebut, sesuatu yang membingungkan akhirnya terjadi.

“Aku pikir kami akan mengganggu kalau kami datang dengan tiba-tiba, tetapi…”

Perkataan Chitanda benar-benar penuh perhatian. Aku tidak begitu terganggu, tetapi lebih ke…

“Aku terkejut.”

“Kupikir kau juga begitu.”

Satoshi mengangkat bahunya.

“Aku juga sama terkejutnya. Membicarakannya memang menakjubkan, tetapi aku tidak pernah menyangka kalau ini benar-benar terjadi.”

Ada dua hal yang ini kutanyakan.

“Bagaimana kalian tahu tentang hari ini, dan ide siapa untuk datang ke mari?”

“Yah itu sebuah cerita yang panjang…”

Chitanda memiringkan kepalanya seakan-akan ingin menentukan dari mana mau memulainya.

“Ketika Oohinata bertanya kepada kami, apakah kita pernah melakukan sesuatu seperti pesta bersama seluruh anggota klub, aku memberitahunya tentang pesta setelah festival budaya, lalu dia bertanya kepadaku apakah kita pernah melakukan sesuatu lagi selain itu, dan kubilang padanya kalau aku tidak bisa memikirkan lagi yang lain, jadi dia…”

Seperti malah dibuat-buat agar menjadi sebuah cerita yang panjang. Saat itu, Ibara memotong dan dengan enteng mengatakan, “Ketika aku mengatakan kalau hari ulang tahunmu hampir tiba, Oohinata bilang kalau kita harus membuatkanmu pesta ulang tahun.”

“Kau tahu hari ulang tahunku?”

“Hanya tahu kalau di bulan April. Itu kan hal yang biasa kita ingat tentang seseorang di kelas.”

“Tidak denganku

“Itu karena kau bukan manusia.”

Dipikir-pikir lagi, Ibara punya banyak kesempatan untuk mengetahui hari ulang tahunk. Kami berada di satu kelas yang sama selama SD dan SMP, terutama di SD, mereka sering menempel poster “Siapa yang bulan ini ulang tahun?”. Jika dia ingat kalau hari ulang tahunku di Bulan April, maka mudah baginya untuk mengecek daftar kelas lama untuk menemukan hari ulang tahunku yang sesungguhnya.

Tanpa alasan, bagaimanapun, dia tidak akan melakukannya. Dengan kata lain, pelakunya adalah Oohinata.

“Jadi kau yang merenecanakannya, ya?”

Aku menatap Oohinata. Matanya tiba-tiba memandang sekitar ruang tengah, dan ketika matanya bertemu denganku, dia tersenyum tanpa ragu.

“Teman perlu dirayakan.”

Mengesampingkan kebenaran motto tersebut, ada beberapa cara untuk merayakannya sendirian dan tanpa diganggu.

“Dan tidak ada orang yang akan sedih seusai melakukan pesta untuknya.”

Tidak ada pertanda keraguan pada dirinya. Dengan mengatakan itu, dia berencana untuk membuatku salah satu dari orang-orang bahagia tersebut. Yay.

Sayang untuknya, karena belum ada satu orang pun yang mengatakan “Selamat Ulang Tahun” ke padaku.

“Selepas itu, aku terkejut kalian semua berada di sini.”

Entah seberapa keras Oohinata mencoba untuk melakukan ide berpesta, hampir tidak mungkin kalau semuanya setuju dengan ide tersebut. Chitanda mungkin hanya menginginkan supaya anggota baru senang, tetapi dalam hidupku aku tidak bisa membayangkan skenario di mana Ibara menyutujuinya. Seperti mendengar apa yang kupikirkan, gadis yang sedang kupikirkan bertanya dengan terus terang.

“Aku akan menonton film sore ini, jadi ini cuma sekedar untuk menghabiskan waktu sebelum menonton film. Hanya dua jam yang akan aku luangkan untuk perayaanmu.”

Apa kau seorang pembaca pikiran?

“Kami membeli minuman jadi tolong ambilkan cangkir.”

Kau harusnya juga membeli cangkir kertas… Aku melihat Satoshi membawa tas kertas yang penuh jajanan. Daripada memakannya langsung dari tas tersebut, mungkin lebih baik jika aku membawakannya penampan sebagai wadah. Kalau aku ingat dengan benar, penampan kayu berada di tempat cangkir. Dan juga, jika ada kue di kotaknya Oohinata, maka aku harus membawa pisau dan beberapa piring untuk nanti. Aku ragu kalau kami punya cukup piring. Tentu saja kami juga butuh sendok. Membawa garpu sepertinya juga bukan merupakan ide yang buruk.

Aku berdiri dari kursiku dan pergi ke dapur untuk mencari ini dan itu, sebuah keraguan tiba-tiba menghampiri diriku.

Jika ini sebuah perayaan ulang tahun, maka aku menjadi tokoh utamanya.

Tetapi, kenapa hanya aku aku yang berdiri dan bergerak ke sana sini?



Ketika aku membawa peralatan dan makanan kembali ke ruang tengah, aku sadar kalau asbak, buku yang tadi selesai kubaca dan remot televisi semuanya dibersihkan dan ditempatkan di atas bupet. Hanya kucing keberuntungan yang tetap di tempatnya, masih diabadikan di ujung meja, terus menunjukkan senyum menyebalkannya.

Jajanan yang Satoshi bawa ternyata adalah biskuit-biskuit berbentuk apik. (Mirip dengan manisan gula-gula.) Chitanda bilang, “Sepertinya enak kalau ditambah selai,” jadi aku menyiapkan piring kecil sampai yang besar untuk jajanan dan membawa beberapa selai mandarin musim panas dari kulas. Ketika melihat selainya, Oohinata menyeriangi dengan bahagia.

“Oh! Itu selai ‘MilleFleur’ kan!”

Melihat merknya, aku bisa melihat kata “MilleFleur” tertempel. Kalau aku belum mendengar cara yang benar untuk pengucapannya, aku mungkin akan mengatakannya seperti “MilleFlew”. Meyakinkan untuk tidak mengungkapkan pikiran seperti ini, aku menjawab, “Ya,” dengan dadaku yang lantang.

“Kau mengeluarkan sesuatu seperti ‘MilleFleur’ dengan lagak biasa saja, sungguh kau orang papan atas, jeez.”

Oohinata yang tersenyum terlihat elok, gadis yang jujur, meski terkadang juga menjadi seorang gadis yang tidak begitu jujur di sekitarnya. Dengan jelas curiga, Ibara mulai ke padaku.

“Apa kau bahkan tahu apa ini?”

“Tidak, tidak sama sekali.”

“Lalu kenapa kau berlagak seakan-akan kau tahu?”

“Aku hanya ingin terlihat keren. Maafkan aku.”

Aku meminta maaf dan bertanya ke Oohinata dari awal.

“Apa ini?”

Setelah tahu akan kegengsianku yang kekanak-kanakan, Oohinata melihatku dengan pandangan yang sangat dingin, meskipun begitu ia kembali seperti sedia kala dan mengambil botol selai tersebut.

“Ini merupakan sebuah perusahaan khusus selai. Sangat terkenal. Aku dulu pernah membeli satu, dan, sesuai dugaan, rasanya sebanding dengan harganya yang mahal.”

“Jadi ini mahal, ya?”

Aku berkata tanpa berpikir sambil melihat selainya.

“Yah, tidak begitu. Setidaknya, mahal untuk ukuran selai.”

Aku tidak bisa membayangkan Oohinata yang berbaju sederhana dan berkulit coklat ini pergi ke toko khusus untuk membeli selai. Aku tahu aku salah untuk menilai buku dari sampulnya, tetapi tetap saja…

“Aku penasaran apakah ini perbuatan sia-sia untuk memakan selai enak seperti ini dengan biskuit biasa.”

Saat Satoshi menyuarakan pendapatnya, Chitanda meresponnya dengan senyuman kecil.

“Seharusnya tidak apa-apa, kan?”

Dan dengan itu, maka tidak apa-apa.

Oohinata bilang kalau dia sudah membawa korek api, jadi aku beranggapan kalau korek tersebut digunakan untuk menyalakan lilin kue ulang tahun. Persiapannya sudah siap, tapi kuenya mungkin nanti.

Minuman yang Ibara siapkan adalah jus buah persik putih bersoda yang tidak hanya mewakili minuman beralkohol, akan tetapi botolnya juga mirip.

“Ayolah Hotarou, pasti kau punya sesuatu yang lebih hebat dari ini semua.”

Pergi ke dapur sekali lagi karena ucapan Satoshi, aku mengambil beberapa gelas yang belum digunakan karena untuk keperluan tamu yang bahkan belum dikeluarkan dari kardusnya. Gelasnya pendek dan tidak ada gagangnya. Desain yang terukir bersinar seperti kristal.

“Apa lagi itu?”

Ibara bertanya sambil memiringkan kepalanya.

“Cangkir,” Aku memberitahunya, tapi seperti biasa, dia tidak mendengarkannya.

“Bukan gelas minum, bukan pula gelas berbentuk piala…”

“Apakah itu gelas Kiriko?” (Jenis gelas di Jepang.)

Oohinata sendiri yang menebaknya, akan tetapi sepertinya tebakannya salah.

“Hanya sebuah hiasan. Eh tidak, bentuk gelas ini disebut apa ya?”

“Di kardus tertulis gelas whiskey.

Wajah Ibara terlihat sedikit jengkel.

Menurutku gelas dengan gagang yang panjang akan lebih cocok, tetapi di rumah ini tidak ada yang bisa digunakan sekarang. Mungkin sebenarnya ada berserakan, tetapi sekalipun begitu, aku tidak tahu gelas-gelas tersebut berserakan di mana. Masalahnya menjadi semakin rumit, aku hanya bisa menemukan empat gelas whisky, yang berarti…

“Tunggu, apakah cuma Oreki-san yang menggunakan cangkir biasa?”

…sesuatu seperti itu akhirnya terjadi. Entah bagaimana kau melihatnya, ini merupakan cara yang buruk untuk memperlakukan tokoh utama hari ini.

Ketika jusnya sedang disiapkan, Oohinata berbicara.

“Kalau begitu, seseorang harus memulai ucapan selamat.”

Satoshi dan Ibara saling bertukar pandang lalu melihat ke arah Chitanda, seperti sudah direncanakan. Mungkin paham kalau hanya dia yang dipilih, Chitanda mengambil gelas tanpa melihatnya seakan-akan dia ingin menolaknya.

Tersenyum ambigu yang mengisyaratkan kalau dia tidak tahu bagaimana cara melakukan hal seperti ini, Chitanda memulai pidatonya.

“Umm, hari ini adalah ulang tahun Oreki-san, jadi mari kita rayakan. Aku harap aku bisa memberimu sebuah hadiah, tetapi karena waktunya mendadak, aku harus minta maaf karena tidak bisa memberimu hadiah.”

“Kehadiranmu sudah cukup kok.”

Orang yang mengatakan itu bukanlah aku, melainkan Satoshi. Mendengarnya memalsukan perasaan orang itu sungguh menyebalkan.

“Mendengar itu membuaku lebih baik.”

Dan mendengarnya merasa lebih baik setelah pemalsuan tersebut juga sama-sama menyebalkannya.

“Dari kita semua, kau orang tercepat yang menginjak umur 17 tahun. Jadi, umm… selamat. Bersulang.”

Kami mengangkat empat gelas whiskey dan satu cangkir lalu dengan pelan menyentuhkannya bersama. Meskipun ulang tahun ini seharusnya diperuntukkan untukku, Oohinata terlihat sebagai orang yang paling bahagia.



Itu adalah saat di mana kekhawatiranku menghilang.

Bukannya aku sangat ingin diberi ucapan selamat atau apa, tetapi lebih ke, aku cemas kalau mereka hanya berencana untuk makan dan minum, lalu lekas pulang ke rumah. Sekarang mereka sudah bersulang, bagaimanapun ulang tahunku sudah berjalan dengan baik.

Akan tetapi, ada satu hal lain lagi yang menggangguku.

Kucing keberuntungan.

Kenapa masih ada di meja? Ketika aku sedang mengambil piring dan sendok-garpu, mereka merapikan meja untukku. Mereka lalu meletakkan semuanya ke bupet, akan tetapi, hanya kucing keberuntungan tersebut yang tetap berada di meja.

Aku penasaran mungkinkah itu kebetulan. Tidak, semua yang ada di meja itu mengganggu, sehingga harus disingkirkan. Meskipun mereka berencana untuk menyebar makanan pada meja, mereka harus melakukanya sambil menghindari kucing keberuntungan. Mungkinkah ada juga orang yang penasaran kenapa kucing keberuntungan itu masih ada di situ?

Aku telah membuat kesalahan. Karena tanpa banyak berpikir mengeluarkan selai mandarin musim panas ini tanpa mengetahui betapa mengesankannya selai itu. Untungnya percakapan itu menjauhkannya dari selai tersebut.

Mulai sekarang aku harus berhati-hati.

Biskuitnya Satoshi sedikit asin, dan hasilnya, sangat cocok dengan selai tersebut. Kurasa selama ini aku lebih suka yang manis-manis, tetapi rasa pahit dari selai mandarin musim panas ini terbukti sangat menyegarkan; bagaimana ya aku harus mengungkapkannya—sesuatu yang lebih mirip epee dibandingkan foil. (Keduanya sama-sama nama alat untuk membuat pagar, epee lebih berat dan kaku sedangkan foil lebih enteng dan mudah digunakan.)

“Fukube-senpai, kau sudah pernah datang ke sini untuk sekedar bermain, kan?”

Saat Oohinata menanyakan ini, Satoshi menghadapku.

“Aku rasa belum.”

“Belum.”

“Aku pernah berada di sekitar sini, tetapi kami berdua bertemu di taman sekitar sini. Aku pikir aku sedang meminjam sesuatu darinya.”

Aku memalingkan kapalaku. Seperti yang dia katakan, aku menyuruh Satoshi menunggu di taman dekat sini sedangkan aku pergi ke situ dari rumahku. Akan tetapi…

“Apa kau yakin? Aku tidak begitu ingat kalau kau pernah mengembalikan sesuatu.”

Hanya sekitar dua tahun yang lalu dan aku sudah tidak begitu mengingatnya dengan baik. Tentu saja ingatan samar-samar ini tidak bisa begitu dipercaya, tetapi aku tidak bisa menahannya apabila pendapat kita berbeda. Setuju dengan hal tersebut, lalu Oohinata bicara, “Mungkin kau datang dua kali, untuk meminjam dan untuk mengembalikannya.”

Tentu saja, sungguh sebuah pendapat yang sangat masuk akal.

“Tetapi kau belum pernah benar-benar ke sini, kan?”

“Aku tidak merasa kalau pergi ke rumahnya akan membuat kita melakukan apa yang kita perlukan.”

Oohinata mengatakannya dengan lirih dan ragu lalu mengantarkan gelas whiskey ke bibirnya.

“Kau sangat berterus terang. Jika itu aku, aku akan lebih mengatakan sesuatu seperti ‘aku cuma menjadi seorang pengganggu,’ tetapi kurasa karena memang itu dirimu.”

Satoshi menjawabnya dengan memiringkan kepalanya.

“Aku ragu kalau memang seperti itu. Aku tipe orang yang menjaga kenalan kecil dan puas akan hal itu, jadi jenis-jenis tentang gambaran umum itu tidak berlaku untukku.” (Referensi dari salah satu bagian buku Zhuangzi: Orang berbudi luhur menjaga kenalan seenteng air, orang berpikiran sempit menerima kenalan semanis anggur.”)

“Jenis yang mana?”

“Semuanya.”

Aku bisa setuju dengan itu.

“Aku tahu, kurasa orang-orang seperti itu memang ada.”

Oohinata sedang berpikir. Berpendapat sebagai seorang laki-laki, secara pribadi aku tidak merasa kalau Satoshi dan aku condong sebagai ‘kenalan kecil’ dari segala derajat. Mungkin biasa saja. Jika aku harus menamakannya, meskipun Oohinata tomboy, bisa saja benar-benar tidak ada orang yang bicara dengan mudah akan hal-hal tersebut.

Oohinata memasukkan biskuit ke mulutnya, lalu mengangkat kepalanya dan bertanya lagi.

“Bolehkah aku bertanya? Kamarmu seperti apa?”

Kamarku, hah? Aku mulai memberanikan diriku.

“Agak biasa. Ada sebuah kasur, sebuah meja tulis, dan sebuah rak buku.”

“Tidak dihias dengan apa pun?”

Aku merasa tidak pernah mengatakan apa pun tentang kamarku, tetapi aku yakin setidaknya ada sesuatu yang menempel di dinding. Dengan diam aku mengingat jikalau memang ada, tiba-tiba Ibara mengatakan sesuatu yang tidak penting sambil mengelus-elus kepala kucing keberuntungan itu.

“Sudah cukup sampai di situ, Hina-chan. Bahkan orang ini terkenal akan privasinya.”

Lalu dia memandangku dan menunjukkan senyuman dingin.

“Lagi pula, itu kamar laki-laki, jadi aku yakin kau bisa membayangkan benda-benda apa saja yang ada di situ.”

Aku tidak begitu yakin apa yang Ibara bayangkan, tetapi tidak ada yang bisa membenarkan senyuman penuh jijik yang mengarah kepadaku itu. …Yah, setidaknya tidak begitu banyak.

“Aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa pun.”

Saat Oohinata mengatakan ini, Satoshi menjawab dengan sebuah senyuman.

“Berbagai hal seperti buku pelajaran.”

Aku juga menambahkan.

“Juga buku referensi.”

“Kamus juga, kan?”

“Tentu saja.”

Ibara terlihat kagum.

“Kalian bodoh atau bagaimana?”

Biskuit yang ada di depan kami perlahan semakin sedikit. Aku sebenarnya tidak menyangka kalau itu semua akan dimakan, tapi kalau memang akan dimakan semua, kuenya maka akan muncul setelah itu. Saat aku menggapai biskuitnya, tiba-tiba tersadar kalau aku belum makan apa apun untuk makan siang. Lalu aku berpikir.

“Ngomong-ngomong, apakah kalian sudah makan?”

Jawabannya bermacam-macam.

Chitanda menjawab, “Sedikit.”

Oohinata menjawab, “Aku sudah.”

Ibara menjawab, “Aku makan paginya terlambat, jadi belum .”

Satoshi menjawab, “Aku belum.”

Karena di saat yang sama selain menjadi tokoh utama dan  tuan rumah, mungkin sudah kewajibanku untuk menawari sesuatu.

“Kalau begitu, kita bisa membeli pizza.”

“Eh?! Tetapi aku tidak enak kalau kau menraktir kami.”

Chitanda mencoba untuk bijaksana, tetapi tentu saja tidak mungkin kalau aku akan menraktir mereka.

“Tentu saja kita akan patungan.”

“O… oh, tentu saja.”

Saat itu, Satoshi juga berbicara.

“Aku setuju, awalnya aku juga berpikir akan bagus kalau kita membeli pizza. Bagaimanapun juga, akan sempurna jika ada banyak orang untuk makan. Tetapi aku lupa akan sesuatu.”

“Apakah toko pizzanya tutup?”

“Jika toko pizza tutup pada hari Sabtu akankah mereka mendapat uang? Tidak, jadi…”

Dia menatap sekilas Ibara. Dibandingkan dengan Satoshi yang ragu-ragu, Ibara berbicara dengan berterus terang.

“Aku alergi keju. Maaf.”

“…Oh, baiklah. Aku tidak tahu.”

“Akan lebih mengejutkan kalau kau tahu kesukaanku.”

Pernah ada keju saat makan siang di sekolah, jadi tidak begitu aneh kalau aku mengetahuinya, tetapi meski begitu, aku tidak tahu. Dia pernah memberitahuku, tetapi kurasa aku tidak begitu memperhatikan.

“Kau juga tidak tahan dengan keju?”

Saat Oohinata mengoleskan banyak sekai selai dengan bagus pada biskuit lalu memasukkannya ke dalam mulut dengan cara yang sama bagusnya, tiba-tiba dia memajukan badannya ke depan karena penasaran.

“Ya, sedikit. Bukannya aku alergi, tapi rasanya aku hanya tidak bisa memakannya saja.”

“Karena rasanya?”

“Mungkin karena baunya. Kalau itu sesuatu seperti keju yang dingin dan dipotong dengan dengan kecil, maka tidak terlalu bau, tapi aku tidak tahan bahkan untuk sekedar mendekat kalau sudah dimasak. Kau juga tidak menyukainya, Hina-chan?”

Saat mendengar ini, Oohinata tersenyum lebar.

“Ini cuma sesuatu yang temanku bilang padaku, tetapi orang benar-benar harus membuang jeruk mandarin dan susu yang sudah busuk.”

Aku penasaran jika Oohinata mempunyai kebiasaan membawa-bawa temannya ketika dia tidak bisa memikirkan cara yang baik untuk mengatakan sesuatu. Sesuai dugaan, Ibara kembali tersenyum dengan terpaksa.

“Rasanya lega punya jawaban tepat, tetapi masih sedikit menggagguku kalau itu menjadikan kelahanku. Aku harus terbiasa dengan itu seiring aku menjadi dewasa.”

Jika Ibara menjadi seorang pertapa di Pegunungan Pyrenees (Bentang pegunungan pembatas antara Perancis dan Spanyol.) Dia bahkan mungkin akan mendapatkan pencerahan mengenai sesuatu yang berhubungan dengan keju. Legenda di sekitar Pabrik Harian Ibara dan bagaimana merek mengambil alih dunia dari produksi keju dengan badai yang akan di sana-sini. Mungkin.

Jika dia cuma tidak suka rasanya, maka tidak masalah selama dia tidak memakannya, tetapi masalahnya adalah karena dia tidak menyukai baunya, bahkan memesan pizza saja susah. Menilai karena semua toko pengirim pizza selalu memasukkan ke kotak pos kami, jadi mungkin saja kalau pizzanya tidak menggunakan keju, tetapi aku tidak begitu sangat menginginkan pizza sampai aku berharap akan kemungkinan tersebut. Terlebih lagi, biskuitnya secara tidak terduga lumayan membuat kenyang.

“Bagaimanapun, Oreki-senpai, kau sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang Ibara-senpai, ya. Meskipun kau bersamanya saat SD?”

“Lumayan.”

“Kenapa kau membual tentang itu?” potong Ibara.

Bukan itu yang aku maksudkan.

Oohinata, yang dengan cepat menggapai piring jajanan, tiba-tiba berhenti. Dia mulai memandang Ibara dengan ekspresi ragu.

“Mungkinkah itu artinya apa yang aku pikirkan? Kau juga belum pernah ke rumah ini, Ibara-senpai?”
                                                                                       
“Tentu saja belum. Hanya karena kita bersama di daerah sekolah yang sama bukan berarti rumah kita dekat.”

“Benarkah? Tunggu, tetapi…”

“Kita semua sampai ke sini bahkan tanpa sedikit pun tersesat. Kupikir salah satu dari kita sudah pernah ke sini sebelumnya.”

Aku merasa kalau waktunya berhenti sesaat.



Jadi akhirnya seperti ini.

Pindah dari percakapan tentang kamarku, dan belum mendekat ke diskusi akan arti dibalik kucing keberuntungan. Berpikir kalau akhirnya sampai ke arah itu setelah aku membawa sesuatu seperti pizza, sungguh di luar perkiraan.

Karena aku tidak tahu sesuatu seperti kesukaan makanan Ibara, yang berarti tidak ada ikatan yang begitu kuat antara kita berdua, maka dari itu, dia belum pernah ke rumahku sebelumnya, huh? Aku tahu; terikuti secara logis. Yang artinya, aku telah menggali kuburanku sendiri.

Masihkah ada kesempatan bagiku untuk mengganti topik pembicaraan?

Tidak, mungkin sudah terlalu terlambat. Percakapannya sudah mencapai titik di mana tidak bisa kembali. Jika aku memaksa untuk mengganggu alur percakapan, mereka akan penasaran kenapa aku mencoba merubah topik dan akhrnya malah menjadi penasaran yang tidak perlu. Pertanyaan Oohinata hampir mendekati rahasia  yang ditunjukkan kucing keberuntungan. Bagaimanapun, semuanya hanya masih sebatas ‘hampir’. Bukan petunjuk langsung.

Sangat menyakitkan, tetapi hal yang bisa kulakukan hanyalah mundur dari percakapan sambil berdoa supaya mereka lekas membicarakan hal yang lain.

Andai saja dia memahami ini.



Ibara melihat Satoshi.

“Itu, yah, kau tahu. Fuku-chan menunjukkan kita jalannya, kan?”

Satoshi terlihat bingung, dan menjawab, “Aku hanya mengingat petanya. Lingkungan ini sedikit membingungkan, tetapi aku lumayan pandai untuk mengingat berbagai hal. Meski selagi aku mendapatkan petanya…”

“Aku menyiapkannya,” Sisip Chitanda.

“Benar. Aku mendapatkannya dari Chitanda.”

Dia mengeluarkan peta dari sakunya dan menunjukkan ke kami semua. Bukan salah satu peta hebat yang menunjukkan banyak detail tentang semua daerah, tetapi lebih ke peta satu daerah kota. Lokasi rumahku ditandai dengan pulpen merah.

“Oh, itu benar. Itu karena Chi-chan pernah ke sini sebelumnya.”

Saat mendengar ini, Chitanda mengeraskan badannya.

“Ingat? Tahun kemarin. Saat Irisu-senpai datang ke kita saat liburan musim panas untuk meminta pendapat kita tentang videonya, Chitanda datang ke sini untuk menjemputnya, iya kan?”

“Ah, tidak, itu…”

Dia punya ingatan yang kuat. Chitanda datang menjemputku setelah mendengar Satoshi kalau aku berniat untuk tidak ikut-ikutan, akan tetapi saat itu…”
                                                                                                         
“Aku bisa dekat karena arahan Fukube-san, tetapi aku belum pernah benar-benar sampai ke rumah.”

Aku menerima sebuah telpon saat itu: “Aku datang menjemputmu, tetapi sepertinya aku tersesat, jadi tolong datang jemput aku.” Aku bisa segera menemukannya, tetapi dia bahkan tidak melihat depan rumahku hari itu.

“Aku tahu alamatnya, akan tetapi, selama aku punya peta, aku akan bisa menemukannya.”

“Jadi begitu.”

Oohinata tersenyum cerah seakan-akan puas dengan penjelasan itu.

“Kau akan bisa tahu kalau kau tahu alamatnya, kan. Contohnya, seperti…sesuatu seperti itu.”

Saat dia mengatakan itu, wajahnya mulai menjadi gelap.

“Sesuatu? Apa itu, tepatnya?”

Sepertinya kelas satu ini menemukan sesuatu yang aneh. Tidak ada satu pun kesamaan di antara mereka, tetapi entah bagaimana, melihat Oohinata dan Chitanda saling berdampingan di sofa seperti itu mengingatkanku akan saudara.

“Oh! Kartu tahun baru!”

Saat Oohinata mengatakan ini, wajahnya langsung cerah, Satoshi menjawab dengan jawaban tidak perlu.

“Meskipun begitu, Houtarou tidak melakukan hal-hal seperti itu.”

Tidak benar. Sebenarnya aku dulu pernah mencoba mengirimkannya beberap, tetapi aku akhirnya juga mengalami masalah yang sama. Aku tidak tahu alamat mereka.

“Benarkah?”

Lupa sementara akan usahanya supaya sopan, dia melihatku dengan wajah tidak percaya.

“Setidaknya sudah jelas kalau orang-orang harus mengirim kartu tahun baru pada temannya.”

“Tidak apa. Bagaimanapun kami semua saling bertemu di penghujung tahun baru. Kartu tahun baru hanyalah pengganti bagi orang-orang yang tidak bisa bertemu.”

“Mungkin benar, tetapi bukankah satu-satunya alasan kita bisa menyapa Oreki-san karena sebelumnya aku sudah meneleponnya?” kata Chitanda tanpa menyadarinya.

Satoshi menurunkan biskuit yang sudah ia gerogoti dan mulai tersenyum.

“Ah, tahun baru ini benar-benar luar biasa, kan? Bagaimanapun juga, bahkan Mayaka…” Satoshi berhenti bicara karena merasakan tatapan galak Ibara. Meskipun mungkin dia tidak dipaksa untuk melakukannya, pekerjaan paruh waktu Ibara sebagai seorang miko (pelayan kuil) di kuil terus membuatnya malu. Tentu saja, Oohinata tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

“Kenapa tentang Ibara-senpai?”

“Tak usah dipikirkan. Kita sedang membicarakan alamatnya Oreki, iya kan?”

Dia memaksa mengembalikan percakapan ke jalur sebelumnya. Aku bisa saja mengubur topik bahasannya dengan membicarakan lagi tentang apa yang terjadi di tahun baru, tapi jika aku melakukannya, Ibara pasti akan memandang sinis ke arahku. Sepertinya juga bakalan tidak mengenakkan.

Aku muak akan ini, tiba-tiba Ibara terlihat blank  dan sepertinya heran kenapa dia tidak menyadari sesuatu yang sangat sederhana sampai titik ini.

“Bagaimana dengan daftar kelulusan? Kalau tidak salah, tertulis di sana.”

“Oh iya. Masuk akal juga,” Oohinata mengangguk, lalu memiringkan kepalanya sekali lagi.

“Tapi Chitanda-senpai tidak sekolah di SMP Kaburaya.”

“Tidak, apa yang dia katakan betul.”

Chitanda akhirnya mengatakannya.

“Oreki-san mempunyai teman dari SMP bernama Souda-san. Aku sudah sering ke rumahnya, jadi aku memintanya untuk meminjam buku kelulusan.”

Dengan ini, Ibara dan Satoshi menaikkan suaranya di saat yang sama.

“Jadi begitu. Seharusnya kau memberi tahu kami.”

“Benarkah? Seharusnya kau memberi tahu kami.”

Sembari dia dimarahi oleh dua orang ini, Chitanda dengan tidak biasanya mundur, terlihat malu.

“Aku berniat untuk meminta dari kalian berdua, tetapi aku terus melewatkan kalian, dan aku lupa semuanya saat di ruang klub… Lalu tiba-tiba, ada urusan yang harus dikerjakan di rumahnya Souda-san.”

“Sekarang kalau dipikir-pikir, Souda-san berada di kelas kita, kan? Meskipun, dia sepertinya tidak menilaiku sebagai orang yang kenal dengan Oreki.”

Tentu saja, tidak tepat seperti itu juga. Meskipun dia tipe orang yang menjaga jarak, dia benar-benar pandai bermain bola. Ada sejarah panjang tentang  meminjamkan dan meminjam buku antara kita berdua.

“Bukannya orang tuanya lumayan terkenal?”

“Mereka berada di ibu kota. Meskipun mereka sama sekali tidak melakukan kepentingan pribadi juga.”

Menghembuskan pipinya, Satoshi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan berlebihan.

“Itu kebaikan Chitanda untukmu. Aku tahu kau luar biasa, tetapi mengetahui salah satu teman SMPnya Houtarou. Kau benar-benar membangkitkan rasa hormat.”

“Tidak, itu cuma kebetulan.”

“Mungkin kau sudah pernah mendengar rumor tentang masa lalu gelap dan misteriusku juga.”

Seakan-akan untuk membuat Satoshi mengabaikannya, Chitanda dengan anggun meletakkan telapak tangannya ke atas pahanya dan tersenyum.

“Aku tahu. Contohnya, sesuatu seperti rumor tentang bagaimana kau mulai menyanyikan sebuah lagu setelah lupa untuk mematikan micnya di ruang siaran radio? Tidak, aku belum pernah mendengar sesuatu seperti itu.”

Setelah beberapa detik, Ibara tertawa.

“Hahaha, itu benar! Itu memang terjadi.”

Itu terjadi saat musim gugur kelas tiga SMP. Cerita yang menghibur juga menyedihkan.

“Chi-chan, aku terkejut kau tahu banyak tentang hal seperti itu. Aku bahkan tidak mengingatnya sampai kau menyebutkan itu.”
Satoshi, yang terus masuk ke belukar untuk disapa oleh seekor ular, duduk tanpa mengatakan satu kata pun, dengan wajahnya terus membeku dengan senyuman menyindirnya. (Peribahasa Jepang yang artinya mengalami sesuatu yang buruk sambil melakukan hal yang tidak perlu.) Satoshi bisa sabar menghadapi sangat banyak candaan yang tertuju kepadanya, tetapi sesuai dugaan, sepertinya kejadian itu tetap sebagai kelemahan yang ia tak sukai.

Dari hatiku aku minta maaf terhadap Satoshi. Bagaimanapun juga, orang yang memberi tahu Chitanda akan hal ini adalah aku.

Dengan itu, meskipun aku tidak mempunyai hati yang kejam dengan menghabisinya dengan memberi tahu Chitanda lagu apa yang ia nyanyikan, yang saat itu merupakan percobaan yang payah untuk hip-hop.

Akan tetapi, saat Chitanda dengan sederhana terus menyangkal pujian Ibara, bagiku aneh melihat Oohinata, yang duduk di sana dengan mata terbuka lebar karena terkejut, dengan mulutnya menganga.



Waktu untuk kue semakin dekat, aku mulai membersihkan penampan jajanan dan piring kecil untuk selai. Setelah menyelesaikan perjalanan bolak-balikku antara ruang tengah dan dapur, hanya tersisa kucing keberuntungan yang tersisa di meja. Cukup wajar kalau ada beberapa selai yang berceceran entah bagaimana berhati-hatinya kita makan, jadi aku membawa lap dapur. Saat aku mengelapinya, bicara begitu saja, “Ini mengganggu, iya kan,” dan kupindahkan kucing keberuntungan tersebut ke bupet.

Aku merasa lega. Selama aku bisa menyingkirkan itu dari meja, aku bisa istirahat dengan mudah. Bahaya akhirnya terlewat.

Aku juga mengeluarkan piring untuk kue serta pisau dan garpu. Jus anggur mungkin tidak begitu cocok dengan kue. Aku diberi tahu kalau sesuatu seperti kopi atau café au lait (Kopi Perancis dengan susu.) akan cocok, jadi aku pergi ke dapur sekali lagi dan menunggu di sana supaya airnya mendidih.

Seseorang tidak bisa melihat wajah yang biasanya dia gunakan, sehingga, aku tidak tahu apakah wajahku datar atau tidak. Aku tidak berpikir kalau wajahku tidak begitu mudah untuk dibaca. Ketika Satoshi dan Ibara, terutama Oohinata, membicarakan alamatku, aku pensaran apakah mereka sadar perasaanku seperti aku sedang berjalan di es tipis dengan berbahaya.

Aku sudah menyiapkan cangkir-cangkir kopi. Kopi instant  tidak begitu tepat untuk menjamu tamu yang terhormat, tetapi itu kesalahan mereka karena datang dengan sangat tiba-tiba, aku tidak bisa diganggu. Aku melanjutkan melihat ceret dalam diam, menunggu sampai berbunyi. Dalam pengalamanku, pandangan manusia tanpa disangka mengganggu panasnya air. Selama aku terus melihat ceret, air di dalam tidak pernah mendidih. Jika aku memalingkan mataku untuk sedetik saja, pasti ceretnya akan langsung berbunyi. Tentu saja, sebagai seorang penghemat energi, akan lebih bagus untuk memalingkan wajah, tetapi tidak ada apa pun untuk dilihat.

“Oreki-san, lapnya.”

Ketika aku berbalik, aku melihat Chitanda membawa lap dapur.

“Oh, bisakah kau meletakan di ujung bak cuci piring di sana itu untukku?”

Aku kembali melihat ceret. Aku menganggap Chitanda masih di sana, jadi aku mulai bicara.

“Kau tetap diam tentang itu, huh.”

Mengikuti keheningan sesaat, aku mendengar jawaban yang sepertinya tenggelam oleh suara berisik dari hembusan ventilasi.

“Iya. …Aku rasa kesempatannya terlewat begitu saja.”

Sebelumnya, Chitanda mengatakan kalau dia tahu alamatku dengan mengecek daftar kelulusan dari SMPku. Dia diberitahu oleh temanku, Souda. Memang benar kalau aku pernah mempunyai teman kelas bernama Souda. Aku tidak tahu dia pergi ke SMA mana setelah itu, tetapi yang penting bukan SMA Kamiyama. Mungkin benar Chitanda meminta Souda untuk menunjukkan kepadanya daftar kelulusan tersebut. Bagaimanapun, apa yang dia katakan agak akurat, dan Chitanda juga tidak begitu pandai membuat alasan.

Akan tetapi, itu bukan fakta keseluruhannya.

Satoshi belum pernah ke rumahku sebelumnya. Tentu saja, Ibara juga.

Liburan musim panas kemarin, Chitanda berhasil sampai ke dekat rumahku tetapi bisa sampai ke rumah juga bukan kebohongan.

Akan tetapi, tidak ada yang bilang kalau dia datang hanya sekali. Chitanda pernah datang ke sini sebelumnya. Chitanda menyerahkan peta ke Satoshi, tetapi meski dia tidak menyerahkan itu, dia akan dengan mudah menemukan jalan ke sini sendirian.

Aku mendengar sedikit suara tidak puas.

“Tetapi kau juga tidak mengatakannya.”

“Aku rasa kesempatannya terlewat begitu saja.”

Sesuatu yang keluar dari mulut ini.

Festival yang Chitanda ikuti kekurangan peserta, dan karena bajunya pas denganku, aku dipaksa untuk membantu. Festivalnya berjalan tanpa suatu halangan, tetapi hari itu dingin. Sehingga aku menjadi demam.

Tentu saja Chitanda, sebagai orang yang meminta bantuanku, tidak bisa tinggal diam setelah mendengar aku terus terbaring di tempat tidur. Ketika dia menelepon rumahku di pagi hari dan mendengar kondisiku dari kakakku, dia segera datang mengunjungi. Dia memberi selai mandarin musim panas. Dia memberi tahuku kalau mencampurkan dengan sedikit teh hitam akan bagus ketika demam. Aku tidak begitu suka minum teh hitam, akan tetapi, setelah itu aku diberi mangkuk kecil dan menjilatinya begitu saja.

Aku merasa canggung jika Chitanda masuk ke kamarku, jadi aku menahan demam dan menemuinya di ruang tengah. Ketika kita sedang mengalami kesakitan, tidak begitu mudah untuk menemui tamu. Chitanda tentu paham ini dan segera kembali setelah beberapa menit menyerahkan selai bagus tersebut. Hanya sebentar saja, memang, tapi bagaimanapun juga dia sudah pernah datang.

“Ini sulit… Aku tidak enak dengan Mayaka-san dan yang lain, tetapi mereka tidak akan tahu kalau kita tidak mengatakannya.”

Aku tidak menjawabnya sambil terus melihati ceret.

Tidak berjalan mulus sama sekali, jadi aku menjadi gugup.

Dia bilang mereka tidak akan tahu selama kita tidak memberi tahu mereka, tetapi pada kenyataannya, Chitanda lebih menggunakan tindakannya dibanding kata-katanya untuk memberi tahu kalau dia sudah pernah datang ke ruang tengah ini sebelumnya.

Pesta ini hampir mencapai klimaksnya. Lekas waktunya untuk kuenya agar muncul. Saat itu, beberapa lilin akan ditempelkan lalu dinyalakan. Oohinata sudah membawa korek.

Chitanda mungkin sudah memikirkan susunannya sampai sini. Akan lebih cocok kalau semua lampu dimatikan sambil lilinnya menyala. Itu tujuannya, kan?

Itulah kenapa kucing keberuntungannya tetap berada di meja.

Meskipun asbak, buku, dan remot televisi semuanya sudah dipindahkan ke bupet, hanya kucing keberuntungan yang tetap di situ. Hanya perbuatan seseorang yang sudah tahu tentang kemampuannya untuk mematikanlampu. Dengan kata lain, akan menunjukkan kalau seseorang di antara empat mereka sudah pernah datang ke rumah ini sebelumnya.

Kenyataannya, ketika Chitanda datang ke ruang tengah ini sebelumnya, ruangannya gelap jadi aku memencet tangan kucing keberuntungan untuk menyalakan lampu. Chitanda tidak akan melupakan itu.

Apa yang akan terjadi jika Chitanda menggunakan tangan kucing keberuntungan untuk mematikan lampu? Ibara, atau mungkin Oohinata, mungkin akan mengatakan sesuatu seperti ini:

“Ya ampun, jadi fungsi kucing keberuntungan sebagai remot, ya? Pantas saja tertinggal di meja. Tetapi tunggu dulu, bagaimana kau tahu kalau ini sebuah remot? Kalau begitu, Eru Chitanda, kau tidak hanya pernah datang ke rumah ini, ke  ruang tengah ini, tetapi kau juga melihat kucing keberuntungan digunakan sebagai remot lampu, kan?!”

Karena Chitanda tetap diam ketika datang dengan mereka ke rumahku, tentu saja seharusnya dia juga tadi memindahkan kucing keberuntungan ke bupet.

Saat itu, bagaimanapun, aku tidak bisa mengatakannya. Lilinnya akan segera muncul, yang berarti begitu pula kucing keberuntungannya. Jika aku mengatakan kesalahannya dan bertindak mencurigakan pada hasilnya, akan menjadi rumit. …Saat aku memikirkan ini, aku sadar diamku tentang kunjungan menjenguknya bukan karena “kesempatannya terlewat olehku”. Yang kami lakukan sangatlah curang, bagaimanapun juga… Sangat aneh.

Ketika aku memikirkan ini, aku tidak bisa menahan mengeluarkan senyum kecil. Menyadari ini, Chitanda bertanya padaku.

“Kenapa?”

“Yah…”

Ketika aku mau mengatakan kalau tidak apa-apa, aku ingat sesuatu yang tiba-tiba masuk ke pikiranku.

“Mungkin saja kalau Oohinata tidak menganggap ceritamu tadi.”

“Wha…”

Aku berbalik dan mencoba menunjukkan senyuman dengan suatu maksud, tetapi aku tidak bisa melihat wajahku sendiri jadi aku tidak tahu akan bagaimana hasilnya.

“Apakah mengatakan ‘aku meminta tolong Souda’ terdengar seperti sebuah kebohongan?”

Chitanda mencoba memaksa tersenyum meskipun wajahnya bingung.

Ceretnya mulai berbunyi keras sampai ke teriakan nada tingginya.

Post a Comment

12 Comments

  1. Translatenya bagus min, makasih min. Semoga chapter selanjutnya cepet di upload ya min. Semangat min ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, maaf ya tiba2 ngga rutin nerjemahin ini

      Delete
  2. Lanjutkan min.... 👍👍 Ditunggu chapter berikutnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Chapter selanjutnya, 2-3, udah keluar tuhh hhe

      Delete
  3. Eh aku kira capter ini blm ada..
    Arigatou min

    ReplyDelete
  4. lanjut min ditunggu volume 6 indonesianya katanya udah rilis tapi masih bahasa inggris

    ReplyDelete